
Gerakan Orangtua Peduli Anak Usia Dini :
Merawat Kehidupan, menjaga Masa Depan
Saudara-saudari terkasih, Umat Allah se-Keuskupan Agung Ende; Orangtua, anak-anak, kaum muda, para imam, biarawan-biarawati, para katekis, pendidik, dan seluruh umat beriman yang terkasih dalam Kristus. Salam persaudaraan…
Kita kembali memasuki Masa Prapaskah, saat berahmat yang setiap tahun dianugerahkan Allah. Pada saat yang istimewa ini Gereja mengajak kita untuk memperbarui diri melalui pertobatan, doa puasa, dan amal kasih. Prapaskah juga menjadi kesempatan bagi kita, untuk tidak hanya memperbaiki kesalahan dan dosa pribadi, melainkan juga untuk melihat dengan jujur realitas sosial yang kita hidupi, serta menata kembali pilihan-pilihan hidup kita sebagai murid-murid Kristus, karena pertobatan sejati selalu memiliki dimensi pribadi sekaligus sosial.
Dalam semangat tobat puasa dan amal kasih ini, Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026 di Keuskupan Agung Ende kita arahkan pada fokus pastoral keuskupan tahun ini, yakni Gerakan Orangtua Peduli Anak Usia Dini. Fokus ini lahie dari keprihatinan pastoral yang mendalam sekaligus dari harapan besar akan masa depan Gereja dan masyarakat kita. Gerakan ini merupakan amanat Muspas VIII, dan masih merupakan satu kesatuan dengan Gerakan KUB Peduli Ibu Hamil dan Gerakan KUB Ramah Anak yang sedang kita galakkan dua tahun terakhir.
Saudara-i terkasih,
Anak merupakan anugerah dan tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada keluarga. Secara khusus anak usia dini, sejak dalam kandungan hingga usia enam tahun, adalah anugerah Allah yang tak ternilai, serentak membutuhkan perhatian yang sungguh dari keluarga dan kita semua. Yesus sendiri menunjkkan perhatian-Nya yang khusus kepada anak-anak saat Ia mengatakan, “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku…”(Mrk. 10:14). Dalam diri mereka tersimpan harapan, masa depan, dan keberlanjutan kehidupan.
Ilmu pengetahuan dan pengalaman pastoral menunjukkan bahwa masa usia dini adalah masa emas pembentukan manusia. Pada tahap inilah fondasi iman, karakter, kecerdasan, kepribadian, serta kepekaan sosial dan moral dibangun. Pengalaman anak pada masa ini akan sangat menentukan kualitas hidupnya di masa depan. Karena itu, gereja menegaskan kembali tanggung jawab setiap keluarga. Orangtua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anak. Keluarga adalah “Gereja Mini”, tempat anak pertama kali mengenal iman, belajar tentang nilai-nilai kehidupan, dan mengalami kasih Allah secara nyata. Gerakan Orangtua Peduli Anak Usia Dini dengan ini menjadi undangan bagi setiap orangtua untuk kembali menyadari martabat dan tanggung jawab luhur ini.
Dalam Kaitan dengan pilihan gerekan kita ini selama Masa Prapaskah, saya terdorong untuk menyampaikan bebrap[a hal berikut kepada kita :
Pertama, peduli Anak Usia Dini berarti peduli pada masa depan Gereja dan Masyarakat. Yesus memberi perhatian besar dan menghargai kehadiran seorang anak saat Ia berkata: “Ingatlah, janganlah kamu menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini” (Matius 18:10). Anak adalah gambaran berharga dan masa depan Gereja dan masyarakat. Merawat anak adalah bagian dari ibadat yang sejati kepada Allah, begitu kata Rasul (Yak. 1:27). Maka peduli Anak Usia Dini berarti pula peduli pada iman Gereja dan keberlangsungan masyarakat manusia.
Orangtua kiranya menyatakan kepedulian ini dalam usaha mendekatkan anak kepada Tuhan, dengan mengajar dan berdoa bersama anak-anak, membaca Kitab Suci, menjelaskan ajaran-ajaran iman serta yang terutama menghadiri Ekaristi bersama anak-anak. Kepedulian kepada anak, terutama Anak Usia Dini, adalah bagian dari wujud nyata iman kita.
Kedua, peduli anak usia dini berarti hadir untuk dan bersama anak. Kita masih menghadapi bebrbagai tantangan serius dalam hal kepedulian terhadap anak usia dini. Tidak sedikit anak-anak yang mengalami kekurangan gizi, kurang dukungan belajar, minim pendampingan emosional, dan kurang komunikasi yang hangat dalam keluarga. Ya, selain kemiskinan material, kita perlu sadar akan kemiskinan relasi, kemiskinan empati, kemiskinan perhatian dan waktu, yang dapat mempunyai pengaruh amat besar pada anak-anak kita. Tidak sedikit pula anak-anak yang mengalami ketergantungan pada perangkat komunikasi cerdas (smartphone). Bahkan ada cukup banyak anak yang mengalami kekerasan verbal dan fisik dalam keluarga. Tantangan dan persoalan yang ada, seringkali disebabkan oleh beratnya tekanan hidup dan keterbatasaan pengetahuan, yang membuat orangtua sulit hadir secara utuh dalam pendidikan dan proses tumbuh kembang anak. Pendidikan pun kerapkali dipersempit hanya pada urusan sekolah dan pembiayaan. Padahal, pendidikan yang paling mendasar justru berlangsung di rumah, melalui kehadiran orangtua, dialog yang hanat, kebiasaan berdoa bersama, serta suasana kasih dan aman.
Di rumah dan melalui keteladanan hidup orangtua, anak-anak dapat belajar tentang nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, tanggungjawab, kerja keras, disiplin solidaritas dan iman kristiani. Karena itu, saya mengajak para orangtua untuk tidak menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah atau lembaga lain, melainkan terlibat secara aktif, sadar, dan penuh kasih dalam mendampingi anak-anak mereka. Kita perlu mencegah situasi di mana anak-anak kita merasa diabaikan, ditolak dan tidak bernilai, seolah tangisan mereka tidak menemukan telinga.
Ketiga, orangtua yang peduli adalah juga pendidik ekologi bagi anak. Gerakan orangtua Peduli Anak Usia Dini juga tidak dapat dipisahkan dari isu lingkungan hidup. Anak-anak kita bertumbuh di tengah kristis ekologis yang semakin nyata: kerusakan hutan, krisis air bersih, pencemaran lingkungan, serta budaya konsumtif yang tidak ramah lingkungan. Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si mengingatkan bahwa kesadaran untuk merawat bumi adalah bagian integrak dari iman kristiani. Bumi ini adalah rumah bersama yang kelak akan kita wariskan kepada anak-anak kita. Oleh karena itu, orangtua dipanggil untuk menjadi pendidik ekologi perttama bagi anak-anak: mengajarkan hidup sederhana, hemat, tidak meruisak alam, serta menumbuhkan rasa syukur dan hormat terhadap ciptaan Tuhan. Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah, menanam pohon, menghemat air dan listrik, jika diajarkan sejak dini, akan membentuk generasi yang memiliki kesadaran ekologis dan tanggung jawab moral terhadap bumi.
Keempat, orangtua yang peduli berjuang membangun ekonomi yang manusiawi dan berkeadilan. Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap persoalan ekonomi yang membelit banyak keluarga di wilayah keuskupan kita. Kemiskinan struktural, terbatasnya lapangan kerja, serta biaya hidup yang terus meningkat membuat banyak keluarga hidup dalam ketidakpastian. Dalam situasi ini, maraknya praktik rentenir dan kopersai harian dengan bunga tinggi menjadi luka sosial yang serius. Tidak sedikit keluarga yang terjerat utang demi memenuhi kebutuhan dasar atau biaya pendidikan anak. Dalam kondisi seperti ini, anak-anak kerap menjadi korban. Seringkali karena tekanan ekonomi yang begitu kuat, kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi, pendidikan terhambat, dan suasana rumah selalu penuh kecemasan dan konflik. kepedulian pada anak usia dini tidak akan bertahan jika keluarga terus hisup dalam jerat ketidakadilan ekonomi.
Karena itu, saya mengajak umat sekalian untuk membangun ekonomi alternatif yang lebih manusiawi dan berkeadilan seperti : pendidikan literasi keuangan bagi keluarga, penguatan koperasi kredit, pengembangan kelompok simpan pinjam berbasis solidaritas, serta menumbuhkan budaya tolong-menolong. Pada saat yang sama, Gereja mendorong pula penerapan pola hidup sederhana, jujur, dan bertanggung jawab sebagai wujud iman yang nyata, serta keberanian untuk menolak praktek ekonomi yang menindas. Selain itu, pengurangan pesta-pesta yang terlampau banyak memakan biaya juga merupakan langkah yang perlu di ambil.
Umat beriman yang terkasih,
Melalui APP Prapaskah 2026, saya mengajak seluruh paroki, stasi, lingkungan dan komunitas umat basis untuk menjadikan Gerakan Orangtua Peduli Anak Usia Dini sebagai gerakan bersama. Tentu saja tanggung jawab utama berada di tangan orangtua, akan tetapi sebagai sebuah persekutuan umat, di dalam KUB kita harus berpartisipasi memikul tanggung jawab yang sama. APP hendaknya tidak berhenti pada pengumpulan dana, tetapi menjadi proses pembelajaran iman dan aksi nyata. Saya mendorong agar paroki-paroki mengembangkan katekse keluarga, kelas pendampingan bagi orangtua serta penyadaran tentang makna hidup berkeluarga dan menjadi orang tua bagi kaum muda. Selain itu, kita perlu memberi perhatian yang serius pada kebutuhan akan gizi dan kesehatan anak, menciptakan ruang aman bagi anak, mengupayan pendidikan iman yang kreatif bagi anak-anak, serta aksi-aksi ekologis dan ekonomi yang berpihak pada keluarga kecil. Puasa dan pantang hendaknya melatih kepekaan sosial, sementara derma diwujudkan sebagai solidaritas nyata bagi yang lemah dan kecil.
Pertobatan yang kita jalani selama MAsa Prapaskah ini akan menjadi bermakna jika berbuah dalam keberpihakan nyata pada kehidupan, terutama kehidupan yang paling rapuh. Semoga Masda Prapaskah dan APP 2026 ini menumbuhkan dalam diri kita hati yang peduli, iman yang dewasa, dan keberanian untuk bertindak. Semoga Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda, pelindung Keuskupan kita, mendampingi setiap keluarga di Keuskupan Agung Ende, dan mendoakan agar anak-anak kita bertumbuh menjadi pribadi yang beriman, berbelarasa, dan bertanggung jawab. Semoga masa Prapaskah ini menjadi kesempatan bagi kita, untuk semkin dekat dengan Tuhan dan sesama, semakin mengasihi dan peduli serta terlibat dalam berbagai praktek baik, teristimewa kepada anak-anak di dalam keluarga dan lingkungan kita.
Umat beriman terkasih….
Seraya mengucapkan selamat menjalankan masa Prapaskah, saya mengutip nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, yang berlaku pertama-tama untuk anak-anak: “HAi anak-anak, taatilah orangtuamu di dalam Tuhan. Hormatilah ayahmu dan ibumu… supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi (Ef.6:1-3). Dan kepada para orangtua, saya menyambung nasihat yang sama dari RAsul Paulus: “Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Ef. 6:4) Tuhan Memberkati.
