Lompat ke konten

Mendengarkan dan Berpuasalah

2b4c8814 c9b3 4405 baa7 fc4492ac96b1

Hari ini, Rabu 18 Februari 2026 seluruh Gereja Katolik mulai memasuki masa Prapaskah atau masa tobat dan berpuasa yang ditandai dengan penerimaan Abu yang ditandai pada dahi. Abu dalam Gereja Katolik  melambangkan pertobatan, kerendahan hati dan kefanaan manusia (Manusia berasal dari debu dan akan kembali ke debu).

Dalam Perjanjian lama abu adalah simbol pertobatan yang mendalam. Ayub bertobat “dalam debu dan abu” (Ayub 42:6). Raja Niniwe mengenakan kain kabung dan duduk di atas abu setelah mendengar seruan Yunus (Yunus 3:6-10), dan Daniel berdoa serta berpuasa dengan abu sebagai tanda penyesalan (Daniel 9:3). Kefanaan Manusia (Debu Tanah): Kejadian 3:19 mengingatkan bahwa manusia dibentuk dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu, menegaskan kerapuhan hidup manusia dan ketergantungan pada Tuhan. Masa Persiapan 40 Hari: Angka 40 hari Prapaskah merujuk pada masa puasa Musa sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (Kel 34:28), puasa Elia (1 Raj 19:8), dan puasa Yesus di padang gurun sebelum memulai karya-Nya (Mat 4:2). Panggilan Pertobatan (Perjanjian Baru): Yesus menekankan pentingnya pertobatan (Mat 11:4) dan dalam Matius 6:1-6,16-18, Yesus mengajarkan tentang puasa dan doa yang sejati, bukan untuk pamer, yang menjadi dasar kesederhanaan Rabu Abu. Tanda Salib dan Kematian: Pengolesan abu berbentuk salib di dahi mengingatkan umat bahwa melalui kematian dan kebangkitan Kristus, manusia yang fana diselamatkan.

Paroki Santo Yosef Onekore Pada hari ini, melaksanakan perayaan Ekaristi Rabu-rabu sebanyak empat kali perayaan, yaitu pada jam 06.00 Wita, 08.00 Wita, 10.00 Wita, 17.00 Wita dan bagi sama saudara di Lapas Kelas 2B Ende pada Jam 8.30 Wita. Mengangkat tema dalm seluruh perayaan hari ini : ” MENDENGARKAN DAN BERTOBATLAH, “sejalan dengan seruan Paus Leo XIV.

Paus Leo XIV dalam seruan mengajak umat Katolik seluruhnya melihat masa Prapasakah ini adalah waktu ketika Gereja, dengan kasih dan kepedulian seorang ibu, mengundang kita untuk menempatkan kembali misteri Allah sebagai pusat hidup kita. Dengan begitu, iman kita mendapat semangat baru, dan hati kita tidak tercerai-berai oleh kegelisahan serta berbagai gangguan setiap hari.

Setiap perjalanan pertobatan dimulai ketika kita membiarkan diri disentuh oleh Sabda Allah dan menerima-Nya dengan rendah hati dan terbuka. Karena itu, ada hubungan yang erat antara anugerah Sabda Allah, ruang yang kita sediakan bagi-Nya, dan perubahan yang dikerjakan-Nya dalam diri kita. Maka, perjalanan Prapaskah menjadi kesempatan yang tepat untuk membuka telinga pada suara Tuhan dan memperbarui keputusan untuk mengikuti Kristus—menempuh jalan menuju Yerusalem bersama Dia, tempat misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya digenapi. Kita semua diajak untuk memberi ruang bagi Sabda Allah lewat mendengarkan, sebab kesediaan untuk mendengarkan adalah tanda pertama bahwa kita ingin membangun relasi dengan sesama. Allah sendiri, ketika mewahyukan diri kepada Musa dari semak yang menyala, menunjukkan bahwa mendengarkan adalah ciri khas diri-Nya: «Aku telah memperhatikan kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir. Aku telah mendengar teriakan mereka» (Kel 3:7). Mendengarkan jerit orang yang tertindas menjadi awal sebuah kisah pembebasan. Dalam kisah itu, Tuhan juga melibatkan Musa: Ia mengutusnya untuk membuka jalan keselamatan bagi anak-anak-Nya yang diperbudak. Allah adalah Allah yang terlibat—dan hari ini Ia juga menjangkau kita melalui pikiran-pikiran yang membuat hati-Nya “bergetar”. Karena itu, mendengarkan Sabda dalam liturgi mendidik kita untuk lebih peka dan lebih jujur dalam mendengarkan kenyataan hidup. Di tengah banyak suara dalam kehidupan pribadi dan masyarakat kita, Kitab Suci membuat kita mampu mengenali suara yang muncul dari penderitaan dan ketidakadilan, agar suara itu tidak dibiarkan tanpa jawaban. Masuk ke dalam sikap batin yang terbuka ini berarti membiarkan diri diajar Allah untuk mendengarkan seperti Dia, sampai kita menyadari bahwa «keadaan orang miskin adalah jeritan yang, dalam sejarah manusia, terus-menerus menggugah hidup kita, masyarakat kita, sistem politik dan ekonomi, dan—tidak kalah penting—juga Gereja».

6bfaf903 f713 493c b1ad 2d2a2920ce21

Berpuasalah ! Jika Prapaskah adalah waktu untuk mendengarkan, maka puasa adalah praktik nyata yang menolong kita siap menerima Sabda Allah. Pantang dari makanan adalah latihan rohani yang sangat tua, dan tetap penting serta tak tergantikan dalam perjalanan pertobatan. Justru karena melibatkan tubuh, puasa membuat kita lebih sadar: apa yang sesungguhnya kita “lapari”, dan apa yang kita anggap paling penting untuk menopang hidup. 

Dalam perayaan di Paroki St. Yosef Onekore walaupun dilaksanakan empat kali kehadiran umat hingga melampaui kapasitas gereja Onekore, Ini terpantau begitu banyak Umat yang menempati kursi-kursi yang disiapkan di luar Gereja. Semoga Masa Pertobatan ini sungguh menumbuhkan iman dan pembaruian diri dalam dengan selalu mendengarkan Sabda Tuhan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *