Lompat ke konten

Berkat Santo Blasius Bagi Umat Paroki

578d8f64 2214 4a0f b828 0cbf4d006b89

Hari ini, Selasa 03 Februari 2026 dalam Liturgi Gereja Katolik adalah peringatan fakultatif bagi santo Ansgarius dan Santo Blasius. Namun, dalam tradisi Gereja Timur dan Barat, pada hari ini Gereja di beri kesempatan menerima “Berkat Santo Blasius“. Santo Blasius ad7bca990 2385 4e17 9f59 8345e1fdd4f0 adalah seorang Uskup di Sebaste, di wilayah Armenia, Asia Kecil. Ia dikenal sebagai seorang ahli Fisika dan seorang gembala yang baik hati. Pada masa pemerintahan Kaisar Licinius, ia ditangkap dan dipenjarakan. Kemudian pada tahun 316, ia dihukum mati.
Menurut cerita rakyat, ia berhasil menyelamatkan seorang anak laki-laki dari kematian karena tulang ikan yang tersangkut pada tenggorokannya. Doa dan berkat Santo Blasius melepaskan anak itu dari bahaya kematian. Doa dan berkat Santo Blasius ini terus dilestarikan oleh Gereja hingga dewasa ini. Pada setiap tanggal 3 Februari , Pesta Santo Blasius, umat Katolik menghadiri misa Kudus untuk menerima berkat santo Blasius dari imam-imamnya. Berkat yang diberikan imam-imam disertai doa berikut: Moga-moga Allah karena perantaraan Santo Blasius, Uskup dan Martir, membebaskan dikau dari penderitaan tenggorok dan dari kemalangan lainnya. Atas nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Umat Paroki St. Yosef Onekore, pada hari ini pun mengalami kasih Tuhan dengan menerima berkat Santo Blasius melalui para imamnya, Pater Erick Eureka, SVD, Pater Naris Tonbesi, SVD dan PAter Obby Dukarmo, SVD. Dalam Perayaan Ekaristi ini sebagai imam Konselbran Utama adalah Pater Erick Eureka dan Imam Pengkotbah adalah pater Naris Ton Bessy, SVD. Pater Naris memberi penekanan sebagaimana Bacaan Injil untuk perayaan ini Markus, 16:15-20 dengan membdah Kata “Pergi.” Pergi mengandung dua arti yang satu sebagai arti postif dan yang satu lagi memiliki arti negatif.  Pergilah yang mengandung makna perutusan.  Mengikuti perintah pergi dan dilaksanakan dengan ketulusan hati. Dan Pergilah, yang dari dirinya sendiri tidak menghendaki pergi tetapi dikehendaki oleh orang lain untuk pergi. Perginya ini tidak dengan ketulusan hati. Tuhan menghendaki kita pergi, bukan dalam arti negatif melainkan perintah pergi untuk mewartakan Kabar Gembira. Sekarang tinggal bagaimana kita menanggapinya . Apa kita dengan tulus untuk pergi karena diutus? Ataukah kita enggan untuk pergi karena lebih nyaman berada di tempat? Keadaan saat ini? 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *